ASSALAMUALLAIKUM WR WB KEISTIQOMAHAN , KEIKHLASAN , BERTAQWA

Saturday, 16 June 2012

Kesaksian Orang Mati Suri


Subject:


































"Kesaksian Orang Mati Suri" Begitulah judul cerita kali ini dari teman kita yang di bagikan di inbok kami, dia adalah : Ella Az-Zahra













Aslina adalah warga pekan baru yang mati suri 24







Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu






memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa






yang disaksikan ruhnya saat mati suri.





















Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam






Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal






dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil







cobaan telah datang pada dirinya. Pada umur tujuh







tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani






dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan







racun. Tersebab itu ia menderita selama tiga tahun.







Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid) .






Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung





dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24






Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya






di Rumah Sakit di jakarta. Setelah itu, Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa
dioperasi..























”Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,’ ‘







jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi







obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina






gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina






kembali ke jakarta sekitar pukul 12 malam itu. Ia







dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak






jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar






UGD masuk ke ruang perawatan. ”Aslina seperti orang






ombak (menjelang sakratulmaut). Lalu saya ajarkan







kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam







pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir, ” ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina














memberikan kesaksiaanya.






















”Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon







penghuni kubur,” begitu ia mengawali kesaksiaanya







setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand






Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut






membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa





ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal






dan ketakwaan sebelum mati datang. ”Saya telah







merasakan mati,” ujar anak yatim itu..





















Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.

















Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu







seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging,







dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi. ”Terasa malaikat







mencabut (nyawa) dari kaki kanan saya,”








tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh







pamannya kalimat thoyibah. ”Saat di ujung napas, saya






berzikir,” ujarnya. ”Sungguh sakitnya, Pak, Bu,”







ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ







Pekanbaru.























Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad,






ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya






dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah







itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan







Assalammualaikum kepada ruh Aslina. ”Malaikat itu







besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot,







gemetar,” ujar Aslina mencerita pengalaman matinya.






Lalu malaikat itu bertanya: ‘’siapa Tuhanmu, apa







agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.. “






Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan







lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ”Tak ada teman






kecuali amal,” tambah Aslina yang Ahad malam itu







berpakaian serba hijau.






















Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang







pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan







kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam







barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang






mukanya berkudis,badan berbulu dan mengeluarkan bau






busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari







orang tersebut.























Kemudian Aslina melanjutkan. ”Bapak, Ibu, ingatlah mati,”






sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan







beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia







melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh







dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa







dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan






”Ayah”. ”Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan







ayah saya,” tanyanya. Lalu muncullah satu sosok.







Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara







17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia






65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah






ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan






berkata: ”Wahai ayah, janji saya telah sampai.”







Mendengar itu ayah saya saya menangis. Lalu ayahnya






berkata kepada Aslina. ”Pulanglah ke rumah, kasihan






adik-adikmu. ” ruh Aslina pun menjawab. ”Saya tak







bisa pulang, karena janji telah sampai”.





















Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan







kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat






itu benar-benar ada. ”Alam barzah, akhirat, surga dan






neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,” ujarnya







bak seorang pendakwah.






















Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya






tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya







kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal






shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh







Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi






tersebut, disebelahnya terdapat seorang perempuan yang






menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya






kepada perempuan itu. ”Siapa kamu?” lalu perempuan






itu menjawab.”Akulah (amal) kamu.”





















Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya






berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan






manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang







laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton,







tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan






baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada







amalnya. ”Siapa manusia ini?” Amal Aslina menjawab






orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang.



















Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya







lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang







orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia






tersebut tidak pernah shalat. Selanjutnya tampak pula






oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke







tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka






berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu






ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain.



















Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk







dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata







pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah,






orang tersebut menjerit dan tidak ada yang







menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan






dijawab orang tersebut adalah orang juga suka







membunuh. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah






lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka






dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.



















Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut.







Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan






sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang






ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang






mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar.






Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.






Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.



















Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang






sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak







itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat






batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya







tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut






adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara







literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana






manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat)






baik,red).
























Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan adzan seperti adzan






di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ”Saya






mau shalat.” Lalu dua malaikat yang memimpinnya







melepaskan tangan ruh Aslina. ”Saya pun bertayamum,






saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,”







ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk






melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada






ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut






batangan-batangan emas di dalam tepak ”husnul







khatimah” itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya






ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil.







Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ”Tolong kau






sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan







Allah.”
























Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia






dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang







sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima







meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu






berkata. ”Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini







Ya Allah.” Manusia-manusia itu juga memohon. ”Tolong






kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.”




















Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang







dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya







ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada







pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal






shaleh serta tidak melanggar aturan Allah.





















”Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang







ditunjukkan Allah kepada kita semua, ”








ujarnya.
























Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang






berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin







beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan






”aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan







semuanya,” Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat







Al-Mu’muninun (23) ayat 99-100:





















Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari






mereka, dia berkata:”Ya, Tuhanku kembalikanlah aku






(ke dunia).”(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh







terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali







tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang







diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding






sampai hari mereka dibangkitkan. (100).





















Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat,







dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ”Dan






kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah






kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu






tidak dapat ditolong (lagi).”






















Setelah berpidato, aslina mendapatkan tepukan meriah dari penonton tapi bila di facebook, ia dapatkan jempol sekarang.













Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari







kesaksiaan tersebut.























Nb : Bagikan cerita ini kepada semua orang, agar







mereka mendapat hikmahnya dari cerita ini. Dan Ternyata






hidup ini hanya sementara, serta hanya amal juga hati






yang bersihlah yang mampu menuntun kita menuju jalan kehadapan Illahi.





No comments:

Post a Comment