Kematian
Mendadak Menurut Al-Quran dan Hadist - Alhamdulillah, segala puji bagi
Allah atas segala limpahan nikmat. Tidak ada satu nikmat kecuali itu
berasal dari-Nya. Karenanya, kita harus senantiasa bersyukur kepada-Nya
dengan menggunakan segala nikmat untuk taat kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah yang senantiasa
bersyukur kepada Allah dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya hingga
bengkak kedua kakinya. Semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan kepada
keluarga dan para sahabatnya serta siapa saja yang meniti
sunnah-sunnahnya. Sesungguhnya kematian merupakan misteri bagi
manusia. Tak seorangpun yang tahu kapan datangnya. Namun satu kepastian
bahwa ajal (waktu kematian) seseorang sudah tercatat jauh hari di Lauhul
Mahfudz sebelum manusia diciptakan. Dan ketika seseorang sudah tiba
ajalnya, maka tidak bisa diajukan barang sesaat ataupun diundurkan.
Allah Ta’ala berfirman,
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang
waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak
dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Setelah kematian
maka kesempatan beramal telah habis. Manusia akan mendapatkan balasan
dari amal-amal perbuatannya di alam kubur, berupa nikmat atau adzab
kubur. Dan ketika sudah terjadi kiamat, dia akan dibangkitkan dan
mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah.
“Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati.”(QS.Al-A’raf:35)
Sedangkan orang yang kafir dan ingkar
terhadap kebenaran Islam, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.”(QS.Al-A’raf:36)
Kematian Mendadak Semakin Marak di Akhir Zaman
Kasus Meninggal mendadak seperti yang terjadi pada Adjie Massaid sudah
atau sering kita dengar dalam keseharian kita. Dan di akhir zaman,
jumlahnya semakin banyak sebagimana yang diungkapkan oleh Yusuf bin
Abdullah bin Yusuf al Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah.
Dalam kitabnya tersebut, Yusuf al-Wabil menyebutkan bahwa kematian yang
datang tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu dari tanda dekatnya
kiamat. Hal ini didasarkan pada beberapa kabar hadits Nabi shallallahu
'alaihi wasallam. Salah satunya hadits marfu' dari Anas bin Malik
radliyallah 'anhu,
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . .
akan banyak kematian mendadak." (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh
Al-Albani dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 5899)
Fenomena
kematian mendadak ini sudah sering kita saksikan pada masa sekarang.
Orang yang sebelumnya sehat bugar, -beraktifitas seperti biasa, atau
bahkan berolah raga sepak bola, futsal, badminton dan semisalnya-
tiba-tiba ia terjatuh lalu meninggal dunia. Hal ini dibenarkan oleh
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan sebuah penelitian, setiap
tahunnya banyak orang meninggal karena stroke dan serangan jantung.
Bahkan disebutkan kalau penyakit jantung menempati urutan pertama yang
banyak menyebabkan kematian pada saat ini.
Dalam hadits di atas
terdapat mukjizat ilmiah yang kita benarkan melalui kajian kedokteran
yang harus diakui. Mukjizat ini membuktikan bahwa Nabi shallallahu
'alaihi wasallam adalah utusan Allah yang tidak berbicara berdasar hawa
nafsunya, tapi yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah yang
diturunkan kepada beliau.
Rasanya orang yang hidup pada zaman
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tak pernah membayangkan akan datangnya
zaman yang merebaknya kematian mendadak, kecuali berdasarkan wahyu
ilahi yang menyingkap fenomena ini.
Maksud Kematian Mendadak
Banyak sebab kematian, tapi kematian itu tetap satu. Hal ini
menunjukkan bahwa kematian memiliki sebab, seperti sakit, kecelakaan,
atau bunuh diri dan semisalnya. Sedangkan kematian yang tanpa didahului
sebab itulah maksud kematian yang mendadak yang belum bisa diprediksi
sebelumnya.
Seiring majunya ilmu kedokteran, manusia bisa
menyingkap tentang sebab kematian seperti kanker, endemik, atau penyakit
menular. Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan dekatnya kematian, tetapi
sebab yang utama adalah mandeknya jantung secara tiba-tiba yang datang
tanpa memberi peringatan.
Para ulama mendefinisikan kematian
mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang
singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang
terkena serangan jantung.
Imam al-Bukhari dalam shahihnya
membuat sebuah bab, بَاب مَوْتِ الْفَجْأَةِ الْبَغْتَةِ "Bab kematian
yang datang tiba-tiba". Kemudian beliau menyebutkan hadits Sa'ad bin
'Ubadah radliyallah 'anhu ketika berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan
aku yakin seandainya ia berbicara sebelum itu, pastilah dia ingin
bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapat pahala apabila jika
aku bersedekah untuknya?" Beliaupun menjawab, "Ya". (Muttafaq 'alaih)
. . . kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam
waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami
orang yang terkena serangan jantung.
Kematian Mendadak Dalam Pandangan Ulama
Sebagian ulama salaf tidak menyukai kematian yang datang secara
mendadak, karena dikhawatirkan tidak memberi kesempatan seseorang untuk
meninggalkan wasiat dan mempersiapkan diri untuk bertaubat dan melakukan
amal-amal shalih lainnya. Ketidaksukaan terhadap kematian mendadak ini
dinukil Imam Ahmad dan sebagian ulama madzhab Syafi'i. Imam al-Nawawi
menukil bahwa sejumlah sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan
orang-orang shalih meninggal secara mendadak. An-Nawawi mengatakan,
"Kematian mendadak itu disukai oleh para muqarrabin (orang yang
senantiasa menjaga amal kebaikan karena merasa diawasi oleh Allah)."
(Lihat (Fathul Baari: III/245)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Dengan demikian, kedua pendapat itu dapat disatukan." (Fathul Baari: III/255)
Terdapat keterangan yang menguatkan bahwa kematian mendadak bagi
seorang mukmin tidak layak dicela. Dari Abdullah bin Mas'ud radliyallah
'anhu, dia berkata, "Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang
mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ini adalah lafadz Abdul
Razaq dan al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sedangkan lafadz Ibnu
Abi Syaibah, "Kematian mendadak merupakan istirahat (ketenangan) bagi
seorang mukmin dan kemurkaan atas orang kafir." (HR. Abdul Razaq dalam
al Mushannaf no. 6776, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. no.
8865)
Dari Aisyah radliyallah 'anha, berkata, "Aku pernah
bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengenai
kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,
رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ
"Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana
bagi orang-orang jahat." (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 25042,
al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 10218. Syaikh al Albani
mendhaifkannya dalam Dha'if al Jami' no. 5896)
Diriwayatkan
dari Abdullah bin Mas'ud dan Aisyah radliyallah 'anhuma, keduanya
berkata, "Kematian yang datang mendadak merupakan bentuk kasih sayang
bagi orang mukmin dan kemurkaan bagi orang dzalim." (HR. Ibnu Abi
Syaibah dalam al Mushannaf III/370, dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al
Kubra III/379 secara mauquf).
Kematian mendadak yang dialami
seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia merdeka dari hiruk pikuk
dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya.
Alangkah indahnya hadits yang dijadikan sebagai penguat oleh Imam
al-Baihaqi dalam al Sunan al-Kubra pada kitab "Al-Janaiz" Bab, "Fi
Mautil Faj'ah", dari hadits Abu Qatadah, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam pernah dilalui iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda,
"Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya." Para sahabat bertanya,
"Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan
darinya?" Beliau menjawab,
"Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari
keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan
hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat
(merasa aman dan tenang) darinya." (HR. Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)
Kematian mendadak yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya.
Dia merdeka dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari
fitnah-fitnahnya. Sedangkan Kematian mendadak yang dialami seorang fajir
merupakan kabar gembira bagi hamba Allah. Mereka akan terbebas dari
gangguannya. Di antara gangguannya adalah kedzalimannya terhadap mereka,
kesenangannya melakukan kemungkaran dan jika diingatkan malah menantang
dan itu menyulitkan mereka. Jika diingatkan malah menyakiti dan bila
didiamkan mereka menjadi berdosa. Sedangkan istirahatnya binatang adalah
dikarenakan sang fajir tadi selalu menyakiti dan menyiksanya serta
membebani di luar kemampuannya, tidak memberinya makan dan yang lainnya.
Sedangkan istirahatnya negeri dan pepohonan adalah karena perbuatan
jahat sang fajir hujan tidak turun, dia mengeruk kekayaannya dan tidak
mengairinya.
"Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ibnu Mas'ud
Menyikapi Kematian Mendadak
Bagi orang yang berakal sehat tentu akan mengambil pelajaran dari
fenomena yang ia saksikan. Terlebih fenomena tersebut telah disampaikan
oleh orang yang terpercaya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Maka sepantasnya ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat
kepada-Nya, sebelum kematian itu menjemputnya.
Imam al-Bukhari pernah berkata,
Peliharalah waktu ruku'mu ketika senggang.
Sebab, boleh jadi kematian akan datang secara tiba-tiba
Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar
Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba
Dan setelah memahami adanya kematian yang mendadak, dan semakin sering
terjadi pada akhir zaman (termasuk zaman kita ini), hendaknya kita
mempersiapkan diri dengan bersegera menyambut seruan Allah untuk
melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dan
perintah Allah yang paling utama adalah memurnikan tauhid kepada-Nya
semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, baik dalam masalah
ibadah dan pengabdian, juga dalam masalah ketaatan dan ketundukan kepada
syariat-Nya.
Sesungguhnya kematian akan tetap datang ke
manapun kita lari dan di manapun kita sembunyi. Tidak ada kekuatan di
alam raya yang bisa melawan ketetapan ilahi ini. Dan setelah kematian,
setiap orang akan mendapat balasan dari amal yang telah dikerjakannya di
dunia. Maka bertakwalah kepada Allah, Wahai hamba-hamba Allah!
Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal ketika kematian datang dan
minta diberi kesempatan untuk beramal. Sesungguhnya ajal tidak bisa
ditangguhkan dan tidak bisa ditunda barang sesaat.
Ketahuilah!
sesungguhnya dunia ini terus berjalan ke belakang meninggalkanmu, dan
akhirat berjalan mendatangi. Ingatlah saat kematian dan perpindahan ke
alam Barzah. Dan (ingatlah) yang akan tergambarkan di hadapanmu, berupa
banyaknya keburukan dan sedikitnya kebaikan. Maka, apa yang ingin engkau
amalkan pada saat itu, segeralah amalkan sejak hari ini. Dan apa yang
ingin engkau tinggalkan saat itu, maka tinggalkanlah sejak sekarang.
Maka seandainya setelah mati, kamu dibiarkan. Sesungguhnya kematian itu
merupakan kenyamanan bagi seluruh yang hidup. Namun. jika kamu telah
mati, kamu pasti dibangkitkan dan akan ditanya tentang segala sesuatu,
lalau diberi balasan dari setiap perbuatan. Kalau seperti itu, maka
kematian merupakan sesuatu yang menakutkan dan menghawatirkan. Wallahu
Ta’ala a’lam!
No comments:
Post a Comment