Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..
Sebenarnya, apa yang sudah terjadi adalah ia telah belajar menggunakan
salah satu dari kaidah paling mujarab di dunia ini, yaitu kaidah yang
diakui oleh sebagian besar ahli psikologi agama bahwa, “Barangsiapa
ingin maju, dia harus mengubah kebiasaan mentalnya untuk percaya dan
bukan tidak percaya. Belajar berharap, bukan bimbang”. Dengan begitu,
dia membawa segalanya ke dalam dunia “kemungkinan”. Hal ini tidak
berarti bahwa dengan percaya, kita pasti akan mendapatkan semua yang
diinginkannya. Tidak sama sekali. Yang dimaksudkan adalah “percaya”
merupakan modal paling asasi dalam sebuah “tindakan yang bermakna”. Hal
inilah faktor yang paling dasar untuk berhasil dalam setiap perbuatan.
Bukankah di dalam Al-Qur’an disebutkan, “Barangsiapa benar-benar percaya
kepada Allah, dan dia pun selalu meneguhkan kepercayaannya itu dalam
hidupnya, maka Allah akan menurunkan tangan bantuan-nya kepada orang
itu?. Bahkan, di ayat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan,
“Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang menginginkan
perpindahan (mengubah nasib ke arah yang lebih baik) sesudah mereka
menderita cobaan, kemudian mereka berjuang dan bersabar (atas perjuangan
mereka itu); niscaya Tuhanmu pasti benar-benar (tampil menjadi)
Penolong sekaligus Penyayang untuk mereka” (Al-Naml ayat 110).
Bukankah kesusahan dan kekalahan memungkinkan kita mengembangkan akal
dan maju ke dapan? Bukankah masa-masa sulit, masa-masa buruk, masa-masa
murung, masa-masa menderita, semuanya akan membentuk kepribadian kita
agar lebih matang dan kenyal bagaikan api membentuk emas? Bukankah
Thomas Henry Huxley mengatakan bahwa “Terdapat faedah luar biasa dalam
mengalami beberapa kegagalan awal dalam hidup?”. Tetapi, kebanyakan dari
diri kita tidak memahaminya. Ketika mengalami masa-masa sulit,
masa-masa mengecewakan, kita menjadi marah dan putus asa. Kita memaki
dan menyumpahi keadaan. Mengapa nasibkau bisa begini? Demikian Billi P.S
Lim dalam bukunya yang terkenal “Berani Gagal”. Begitulah manusia,
apabila ditimpa kegagalan, ia menyeru kepada Allah, kemudian bila Allah
memberikan nikmat, ia balik berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu
hanyalah karena kecerdasanku, kepintaranku, dan kepandaianku”. Padahal,
sebenarnya itu adalah “ujian”, namun kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya. (Az-Zumar ayat 49).
Bukankah Allah menegaskan bahwa,
“Dia melapangkan rezeki dan menyempitkannya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya?” (Az-Zumar ayat 52). Bukankah Kami telah melapangkan
untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan bebanmu yang memberatkan
punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebuatan (nama) mu. Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu
telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan serius (urusan) yang
lain, dan bhanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Al-‘Alaq
atau Alam Nasyrah ayat 1-8). Bukankah Allah juga sering menegaskan
bahwa, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,
dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan. Dan
kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu
menjadi puas. Bukankah Dia mendapatkan kamu dalam keadaan yatim lalu Dia
melindungimu? Dan bukankah, Dia mendapatkan kamu dalam keadaan bingung,
lalu Dia memberikan kamu petunjuk? Dan bukankah, Dia mendapatkan kamu
dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kepadamu kecukupan?
(Adl-Dluha ayat 1-8).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan
sesungguhnya orang-orang yang menginginkan “perpindahan” demi kebaikan
(baca : Allah) sesudah mereka dinistakan (dizhalimi), pasti Kami akan
memberi kan tempat yang bagus untuk mereka dalam jangka waktu dekat
(dunia). Dan sesungguhnya kebaikan dalam jangka waktu jauh (akherat)
adalah lebih besar pahalanya bila mereka mengetahui. Mereka itu adalah
orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka ingin berserah
diri (bertawakkal)” (An-Naml ayat 41-42). Karena itu, “masa menderita
adalah waktu untuk belajar”, kata orang bijak. Allah pun memberikan
garansinya, “Katakanlah : Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas
terhdap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah” (Az-Zumar ayat 53). Sebab Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada
di dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia
Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat (Al-Isra’ ayat 25).
Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan
kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan memberikan
pula balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan (An-Naml ayat 97).
Padahal, Al-Qur’an
mengingatkan kita bahwa, pada hari itu, diberitakan kepada manusia apa
yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya. Bahkan
manusia akan menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia
mengemukakan alas an-alasannya (Al-Qiyamah ayat 13-15). Jadi, jujur
dengan potret dirinya yang buram lebih terhormat daripada menyulapnya
menjadi lebih hebat tetapi palsu atau aspal. Orang bijak mengatakan
bahwa “ujian atas kesuksesan seseorang adalah bagaimana dia sanggup
mengatasi kesulitan hidupnya; bagaimana ketabahan yang ia tunjukan
setiap hari; bagaimana ia berdiri tegak menghadapi goncangan dan
penderitaan yang sudah menjadi takdir. Orang sukses itu adalah bila dia
terjepit dan tertutup, namun ia masih mampu bergerak dan bernafas lega;
ia masih melihat ada seberkas cahaya di ujung terowongan, meski kecil
dan suram. Ia tampil menghadapi takdirnya dengan bangga, meski
berdarah-darah. Dialah orang sukses di akhir hayatnya”.
Demikian
yang dapat disampaikan apa makna dari bangkit dari sebuah kegagalan,
semoga dapat memberikan motivasi dan bermanfaat..amiin. Bilahit taufik
wal hidayah, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
No comments:
Post a Comment