ASSALAMUALLAIKUM WR WB KEISTIQOMAHAN , KEIKHLASAN , BERTAQWA

Thursday, 18 October 2012

BANGKIT DARI SUATU KEGAGALAN

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..
Sebenarnya, apa yang sudah terjadi adalah ia telah belajar menggunakan salah satu dari kaidah paling mujarab di dunia ini, yaitu kaidah yang diakui oleh sebagian besar ahli psikologi agama bahwa, “Barangsiapa ingin maju, dia harus mengubah kebiasaan mentalnya untuk percaya dan bukan tidak percaya. Belajar berharap, bukan bimbang”. Dengan begitu, dia membawa segalanya ke dalam dunia “kemungkinan”. Hal ini tidak berarti bahwa dengan percaya, kita pasti akan mendapatkan semua yang diinginkannya. Tidak sama sekali. Yang dimaksudkan adalah “percaya” merupakan modal paling asasi dalam sebuah “tindakan yang bermakna”. Hal inilah faktor yang paling dasar untuk berhasil dalam setiap perbuatan. Bukankah di dalam Al-Qur’an disebutkan, “Barangsiapa benar-benar percaya kepada Allah, dan dia pun selalu meneguhkan kepercayaannya itu dalam hidupnya, maka Allah akan menurunkan tangan bantuan-nya kepada orang itu?. Bahkan, di ayat lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan, “Sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang menginginkan perpindahan (mengubah nasib ke arah yang lebih baik) sesudah mereka menderita cobaan, kemudian mereka berjuang dan bersabar (atas perjuangan mereka itu); niscaya Tuhanmu pasti benar-benar (tampil menjadi) Penolong sekaligus Penyayang untuk mereka” (Al-Naml ayat 110).
 
Bukankah kesusahan dan kekalahan memungkinkan kita mengembangkan akal dan maju ke dapan? Bukankah masa-masa sulit, masa-masa buruk, masa-masa murung, masa-masa menderita, semuanya akan membentuk kepribadian kita agar lebih matang dan kenyal bagaikan api membentuk emas? Bukankah Thomas Henry Huxley mengatakan bahwa “Terdapat faedah luar biasa dalam mengalami beberapa kegagalan awal dalam hidup?”. Tetapi, kebanyakan dari diri kita tidak memahaminya. Ketika mengalami masa-masa sulit, masa-masa mengecewakan, kita menjadi marah dan putus asa. Kita memaki dan menyumpahi keadaan. Mengapa nasibkau bisa begini? Demikian Billi P.S Lim dalam bukunya yang terkenal “Berani Gagal”. Begitulah manusia, apabila ditimpa kegagalan, ia menyeru kepada Allah, kemudian bila Allah memberikan nikmat, ia balik berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kecerdasanku, kepintaranku, dan kepandaianku”. Padahal, sebenarnya itu adalah “ujian”, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Az-Zumar ayat 49).
 
     Bukankah Allah menegaskan bahwa, “Dia melapangkan rezeki dan menyempitkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya?” (Az-Zumar ayat 52). Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan bebanmu yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebuatan (nama) mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan serius (urusan) yang lain, dan bhanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Al-‘Alaq atau Alam Nasyrah ayat 1-8). Bukankah Allah juga sering menegaskan bahwa, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatkan kamu dalam keadaan yatim lalu Dia melindungimu? Dan bukankah, Dia mendapatkan kamu dalam keadaan bingung, lalu Dia memberikan kamu petunjuk? Dan bukankah, Dia mendapatkan kamu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kepadamu kecukupan? (Adl-Dluha ayat 1-8).
 
 
       Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya orang-orang yang menginginkan “perpindahan” demi kebaikan (baca : Allah) sesudah mereka dinistakan (dizhalimi), pasti Kami akan memberi kan tempat yang bagus untuk mereka dalam jangka waktu dekat (dunia). Dan sesungguhnya kebaikan dalam jangka waktu jauh (akherat) adalah lebih besar pahalanya bila mereka mengetahui. Mereka itu adalah orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka ingin berserah diri (bertawakkal)” (An-Naml ayat 41-42). Karena itu, “masa menderita adalah waktu untuk belajar”, kata orang bijak. Allah pun memberikan garansinya, “Katakanlah : Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhdap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah” (Az-Zumar ayat 53). Sebab Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada di dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat (Al-Isra’ ayat 25). Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan memberikan pula balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (An-Naml ayat 97).
 
          Padahal, Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa, pada hari itu, diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang telah dilalaikannya. Bahkan manusia akan menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan alas an-alasannya (Al-Qiyamah ayat 13-15). Jadi, jujur dengan potret dirinya yang buram lebih terhormat daripada menyulapnya menjadi lebih hebat tetapi palsu atau aspal. Orang bijak mengatakan bahwa “ujian atas kesuksesan seseorang adalah bagaimana dia sanggup mengatasi kesulitan hidupnya; bagaimana ketabahan yang ia tunjukan setiap hari; bagaimana ia berdiri tegak menghadapi goncangan dan penderitaan yang sudah menjadi takdir. Orang sukses itu adalah bila dia terjepit dan tertutup, namun ia masih mampu bergerak dan bernafas lega; ia masih melihat ada seberkas cahaya di ujung terowongan, meski kecil dan suram. Ia tampil menghadapi takdirnya dengan bangga, meski berdarah-darah. Dialah orang sukses di akhir hayatnya”.
 
 
       Demikian yang dapat disampaikan apa makna dari bangkit dari sebuah kegagalan, semoga dapat memberikan motivasi dan bermanfaat..amiin. Bilahit taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

No comments:

Post a Comment