Merayakan , di peringati tidak hanya itu tujuan mengenang saja, ini identik dengan idul Qurban , sebagaimana :
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla
mencatat kebaikan dan keburukan kemudian Dia menerangkannya, maka barang
siapa yang bertekad melakukan kebaikan namun tidak jadi mengerjakannya,
maka Allah akan mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna, dan jika
ia mengerjakannya maka akan dicatat baginya sepuluh kebaikan hingga
tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa
yang bertekad hendak melakukan keburukan namun tidak ia kerjakan, maka
Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna, lalu jika ia
mengerjakannya maka akan dicatat baginya satu keburukan."
(Bukhari, Muslim, Ahmad)
berikut sedikit kisah tentang sejarah idul qurban :
Pada saat Nabi Ibrahim membawa Hajar dan puteranya
menuju mekkah, Hajar dalam keadaan menyusui Ismail. Hingga Ibrahim
menempatkan keduanya di sebuah rumah, dibawah pohon besar di dekat
dimana mata air zam-zam nantinya muncul. Pada saat itu, di Mekkah tidak
ada seorangpun, dan tidak pula ada air. Ibrahim meletakkan keduanya di
sana dan di sisi mereka geribah yang di dalamnya terdapat kurma dan
bejana yang di dalamnya terdapat air.
Setelah itu, Ibrahim berangkat dan di ikuti oleh
Hajar seraya berkata, “Hai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi ?,
apakah engkau meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat
seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun ?”. Yang demikian di
ucapkan berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh sama sekali, hingga
akhirnya Hajar berkata, “Apakah Allah menyuruhmu melakukan ini?”. “Ya”,
jawab Ibrahim. “Kalau begitu, kami tidak di sia-siakan”.
Setelah kepergian Nabi Ibrahim, Hajar tetap menyusui
Ismail dan minum dari air yang tersedia sehingga ketika air yang ada
dalam bejana itu sudah habis, maka ia dan juga puteranya merasa haus.
Lalu Hajar melihat puteranya sedang dalam keadaan lemas. Kemudian ia
pergi dan tidak tega melihat keadaan puteranya tersebut. Maka ia
mendapatkan Shafa, merupakan bukit yang paling dekat dengannya. Lalu ia
berdiri di atas bukti itu dan menghadap lembah sambil melihat-lihat,
adakah orang di sana, tetapi ia tidak mendapatkan seorangpun. Setelah
itu, ia turun kembali dari Shafa sehingga sampai ke tengah-tengah
lembah. Hajar mengangkat bagian bawah bajunya dan kemudian berusaha
keras sehingga ia berhasil melewati lembah. Lalu ia mendatangi Marwah
dan berdiri di sana seraya melihat-lihat adakah orang di sana, namun ia
tidak mendapat seorang pun di sana. Ia lakukan hal itu sampai tujuh
kali.
Setelah mendekati Marwah, ia mendengar suara yang
menyerukan “Diam”. Lalu Hajar mencari suara tersebut, hingga akhirnya ia
berkata; “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan
?”. Ternyata sumber suara tersebut berasal dari malaikat. Lalu malaikat
itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Selanjutnya, Siti
Hajar pun mendatangi air tersebut dan mengisi bejananya dengan air dan
kemudian menemui anaknya. Lalu malaikat berkata kepadanya, “Janganlah
engkau takut di sia-siakan, karena di sini akan dibangun sebuah rumah
oleh anak ini bersama dengan bapaknya, dan sesungguhnya Allah tidak akan
menyia-nyiakan keluarga-Nya”.
Singkatnya, dengan adanya mata air zam-zam tersebut,
dalam waktu yang singkat, tempat tersebut menjadi satu perkampungan yang
kemudian terus membesar, sampai Mekkah saat ini, Mekkah yang didatangi
oleh jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia.
Dalam kejadian ini Rasulullah bersabda ;
“ Semoga Allah memberikan rahmat kepada ibunya
Ismail, seandainya ia tidak menceduk air zam-zam, niscaya air zam-zam
itu hanya menjadi sumber air yang terbatas”.
Keimanan dan ketakwaan Siti Hajar dalam kisah ini
diabadikan oleh Allah menjadi salah satu rukun yang wajib dilakukan
dalam ibadah haji, ia adalah sa’i.
Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam rukun sa’i
dalam ibadah haji; salah satunya adalah, dalam menikmati sebuah proses
dalam kehidupan diperlukan kesabaran yang bukan berarti diam. Dengan
berlarinya Hajar di antara shafa dan marwa, adalah bentuk ketakwaan yang
ditunjukkan melalui satu upaya (ikhtiar) sebatas yang bisa dilakukan
oleh dirinya pada sat itu.
Boleh jadi, jika kita yang dihadapkan dalam keadaan
seperti itu, dalam pikiran kita, tentunya, akan sia-sia saja ia berlari
kian kemari, karena pada saat itu, ia di tinggalkan di satu tempat di
mana tidak ada seorangpun di sana. Artinya, kemungkinan untuk
mendapatkan pertolongan, sangatlah kecil sekali apalagi untuk bertahan
hidup. Walaupun demikian, Hajar, tetap berlari kian kemari untuk
mencari pertolongan. Kejadian ini juga memberikan kesimpulan kepada
kita, bahwa, Hajar sendiri tidak pernah tahu kapan dan dimana
pertolongan itu akan datang. Seandainya ia tahu, pastilah ia tidak akan
berlari-lari, mungkin ia akan diam saja menunggu pertolongan itu. Tetapi
dalam kisah ini, ia tidak tahu kapan pertolongan itu akan datang,
tetapi ia meyakini betul jika ia terus berusaha maka Allah tidak akan
menyia-nyiakan hasil usaha dirinya.
Hal ini semakna dengan ayat ; “Barang siapa yang
bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…”.
Bentuk ketakwaan yang bisa dilakukan oleh Siti Hajar,
adalah dengan berlari-lari, tidak dengan berdo’a saja tanpa usaha lalu
diam atau menangis saja meratapi nasibnya. Dan ketika ketakwaan sudah
dilakukan, maka datanglah pertolongan Allah, dengan mengutus malaikatnya
sebagaimana di kisahkan dalam hadits di atas.
Jalan keluar, dan rezeki yang tidak disangka-sangka
adalah dua hal yang berbeda. Ada orang yang bisa mendapatkan jalan
keluar dari satu masalah, tetapi tidak disertai dengan rezeki, atau ada
juga orang yang diberi rezeki tetapi tidak diberi juga jalan keluar dari
masalah yang di hadapi. Tetapi dalam ayat ini, keduanya didapatkan
sekaligus, jalan keluar dari permasalahan, dan rezeki yang tidak
disangka-sangka.
Demikianlah pertolongan Allah, pertolongan Allah bagi
orang-orang yang bertakwa, dan manusia pilihan yang dijadikannya
sebagai contoh bagi seluruh ummat manusia Allah pilih dari kaum wanita…


No comments:
Post a Comment