Dari Abu Dzar z, ia berkata: Rasulullah n bersabda kepadaku: اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah perbuatan
jelek dengan perbuatan baik niscaya kebaikan akan menghapusnya dan
pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi
dalam Sunannya, Kitabul Birri Washshilah, hadits no. 1987. At-Tirmidzi
mengatakan: Hadits ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan
dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi) Pesan-pesan mulia dalam hadits ini
meskipun Nabi n tujukan kepada sahabat Abu Dzar Jundub bin Junadah z,
namun sebenarnya juga diarahkan kepada seluruh umatnya. Karena telah
maklum dalam kaidah ushul fiqih bahwa pembicaraan Allah l dan Rasul-Nya
(sebagai penentu syariat) bila diarahkan kepada seorang dari umat ini,
maka itu sesungguhnya ditujukan pula kepada seluruh umat ini kecuali ada
dalil yang menyatakan kekhususan. Seperti itu pula kaidah yang lainnya,
bahwa dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan peristiwa.
Saudaraku, bila sahabat Nabi n sebagai generasi terbaik umat ini perlu
diberi arahan dan disampaikan kepadanya pesan, maka kita yang hidup di
masa sekarang tentunya lebih membutuhkan. Tiga wasiat yang mulia ini
adalah faktor utama seorang meraih kebahagiaan hidup di dunia yang fana
ini dan akhirat yang abadi kelak. Karena wasiat tersebut mengandung
bentuk pelaksanakan hak-hak Allah l dan hak hamba-hamba-Nya. Seseorang
akan dianggap baik bila bagus hubungannya dengan Allah l dan bagus
pergaulannya dengan sesama manusia. Oleh karena itu, banyak sekali ayat
Al-Qur’an yang memerintahkan untuk mendirikan shalat dan memberikan
zakat. Pada amalan shalat terkandung kedekatan yang tulus antara hamba
dengan Allah l, sedangkan amalan zakat mencerminkan sikap belas kasihan
kepada orang yang kesulitan dan membutuhkan. Oleh karena itu, Nabi kita n
banyak melakukan shalat dan memberikan shadaqah.
Wasiat pertama dan paling utama dalam hadits ini adalah takwa kepada Allah l di manapun berada
Takwa, seperti dikatakan Thalq bin Habib t, adalah: “Kamu melaksanakan
ketaatan kepada Allah l, di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dengan mengharap
pahala-Nya. Kamu (juga) meninggalkan bermaksiat kepada Allah l, di atas
cahaya (ilmu) dari-Nya dan karena takut siksa-Nya.” Umar bin Abdul
Aziz t mengatakan, “Takwa kepada Allah l adalah meninggalkan apa yang
Allah l haramkan dan melaksanakan apa yang Ia wajibkan.” (Jami’ul ‘Ulum
wal Hikam, 1/400) Allah l berfirman dengan menyebutkan sifat-sifat orang yang bertakwa:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati
janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang
yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(Al-Baqarah: 177) Dari sini, maka takwa bukanlah kalimat yang sunyi
dari makna dan bukan pula pengakuan yang kosong dari bukti. Takwa adalah
kata yang sangat luas cakupannya. Takwa adalah melaksanakan apa yang
dibawa oleh syariat Islam ini baik yang berupa aqidah, ibadah, muamalah,
dan akhlak. Karena takwa adalah bentuk pengabdian kepada Allah l,,
dia tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Bukan orang bertakwa yang
sebenarnya bila dia di hadapan orang terlihat taat, namun di saat
sendirian dia bermaksiat. Seperti itu pula ketika berada di masjid
terlihat ruku’ dan sujud namun di saat berada di pasar, di tempat kerja,
dan tempat-tempat lainnya meninggalkan perintah Allah l dan melanggar
batasan-batasan-Nya. Bertakwa kepada Allah l dengan sebenar-benar takwa
adalah dengan mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengkufuri serta mengingat
Allah l dan tidak melupakan-Nya di saat lapang atau sempit, dalam
kondisi senang ataupun sedih. Bagi orang yang bertakwa adalah janji kemuliaan di dunia dan akhirat. Diantara yang akan diperolehnya di dunia adalah:
1. Dibukanya keberkahan, dimudahkan semua urusannya, dan diberikan
dia rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Allah l berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
(Al-A’raf: 96) Juga firman-Nya: “Barangsiapa yang bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(Ath-Thalaaq: 2-3) 2. Memperoleh dukungan dan bantuan dari Allah l. 3. Dijaga oleh Allah l dari tipu daya musuh. Allah l berfirman:
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun
tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Ali Imran: 120) Adapun
di akhirat kelak, mereka mendapatkan surga dengan segala kenikmatannya,
yang jiwa-jiwa mereka akan senantiasa bahagia dan mata pun sejuk
karenanya. Allah l berfirman: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya.” (Al-Qalam: 34)
Namun, ketakwaan yang sesungguhnya tidak akan diperoleh tanpa adanya
ilmu. Dengan ilmu akan bisa dibedakan antara perintah dan larangan,
kebaikan dan kejelekan. Bila ketakwaan telah menjadi baju bagi seseorang
niscaya akan memunculkan sikap takut kepada Allah l dan selalu merasa
diawasi oleh-Nya. Inilah diantara rahasia mengapa tindak kejahatan
di tengah masyarakat kita seolah tak bisa diakhiri, bahkan setiap hari
semakin bertambah kejelekannya. Semua itu tidak lain karena rasa takut
kepada Allah l melemah atau nyaris hilang. Memang, untuk tetap berada di
atas ketakwaan tak semudah yang dibayangkan. Beragam bujuk rayu serta
gangguan selalu menghadang. Akan tetapi manakala kita mengetahui
manisnya buah yang akan dipetik dari ketakwaan, maka jalan untuk
merealisasikannya terbuka lebar dan terasa mudah.
Wasiat atau pesan Nabi n yang kedua adalah agar melakukan amal kebaikan setelah terpeleset melakukan dosa dan kesalahan
Diantara faedah amal kebaikan adalah menghapus kesalahan. Memang, tak
bisa dimungkiri bahwa terkadang seseorang terjerumus dalam kenistaan
karena sekian banyak faktor. Diantaranya, lingkungan yang jelek, bisikan
jiwa yang tidak baik, dan bujuk rayu setan. Jika iman seseorang itu
lemah dan faktor-faktor tersebut menyelimutinya, akan sangat mudah
seseorang tergelincir. Tetapi, Allah l lebih sayang terhadap hamba-Nya
daripada hamba terhadap dirinya sendiri. Diantara bentuk kasih
sayang-Nya bahwa dosa bisa dihapus dan dampak negatif dari dosa bisa
hilang dengan bertaubat, istighfar, dan amal kebaikan yang dilakukan
hamba. Allah l berfirman: “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua
tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang
ingat.” (Hud: 114) Sahabat Ibnu Mas’ud z berkisah bahwa dahulu ada
seorang lelaki mencium seorang perempuan (yang tidak halal baginya).
Kemudian lelaki itu datang kepada Nabi n dan menyebutkan perbuatannya.
Maka turunlah kepadanya ayat tersebut. Orang itu berkata, “(Wahai Nabi),
apakah hal ini khusus bagiku?” Nabi menjawab, “Bagi orang yang
mengamalkannya dari umatku.” (Shahih Al-Bukhari no. 4687) Hadits ini
menunjukkan bahwa cahaya ketaatan mampu melenyapkan gelapnya
kemaksiatan. Diantara ketaatan terbesar untuk menghapus dosa dan
kesalahan adalah taubat dan istighfar kepada Allah l. Oleh karena itu,
seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah l, sebesar
apapun kesalahan yang dilakukannya. Bila suatu saat seseorang digoda
oleh setan sehingga terjatuh ke dalam lumpur dosa, maka bersegeralah
kembali kepada Allah l pasti dia akan mendapati-Nya Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. Bergegaslah untuk memperbaiki diri dengan melakukan
kebaikan karena satu kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah l
menjadi sepuluh. Banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi n yang
menerangkan bahwa amal kebaikan akan menghapus kesalahan. Diantaranya
sabda beliau n: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa puasa Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap pahala
maka diampuni baginya apa yang telah lalu dari dosanya.” (HR. Al-Bukhari
dan Muslim) Akan tetapi, dosa yang bisa dihapus dengan amal
kebaikan adalah dosa kecil. Adapun dosa besar dihapuskan dengan cara
seseorang bertaubat kepada Allah l darinya. Ini pendapat jumhur
(kebanyakan) ulama seperti dikatakan oleh Al-Imam Ibnu Rajab t. (Jami’ul
‘Ulum 1/429) Termasuk kasih sayang Allah l terhadap hamba-Nya, bila
seseorang tidak memiliki dosa kecil, amal shalih yang dia lakukan dapat
meringankan dosa besarnya sekadar menghapusnya dia terhadap dosa kecil.
Jika dia tidak punya dosa kecil dan dosa besar, maka Allah l akan
melipatgandakan pahala kepadanya. (Al-Wafi Syarh Arba’in hlm. 118)
Saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita lakukan akan berdampak
negatif terhadap keimanan, kejiwaan, rezeki, dan seluruh keadaan kita.
Sungguh tiada suatu bala’ (musibah) turun menimpa manusia kecuali karena
dosa. Petaka tidaklah dicabut kecuali dengan taubat dan amal shalih.
Mari kita banyak-banyak mengaca diri dengan memperbaiki kondisi. Semoga
Allah l akan mengubah keadaan menjadi baik dan diberkahi.
Wasiat ketiga: Menggunakan akhlak yang mulia dalam pergaulan dengan sesama
Dengan menjalankan pesan ini, keserasian hidup bermasyarakat akan
terwujud dan ketenteraman akan menebar. Adalah Rasulullah n seorang yang
memiliki budi pekerti yang baik. Segala akhlak mulia dan perangai
terpuji ada pada diri beliau sehingga kita diperintah untuk
mencontohnya. Allah l berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)
Karena akhlak mulia termasuk pokok peradaban dalam kehidupan manusia,
Islam telah menjunjung tinggi kedudukannya dan sangat memerhatikannya.
Banyaknya ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi n adalah bukti terbaik atas
pentingnya hal ini. Rasulullah n menyebutkan sabdanya: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah l) untuk menyempurnakan akhlak
yang baik.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Asy-Syaikh
Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahih Al-Adab) Baiknya akhlak
adalah bukti atas baiknya keimanan seseorang. Pemiliknya akan memetik
janji surga dan dekat majelisnya dengan Nabi n di hari kiamat. Berbudi
pekerti yang luhur juga sebab utama seseorang meraih kecintaan dari
manusia. Seharusnya kita banyak menghiasi diri dengan akhlak mulia.
Misalnya, dengan silaturahmi, memaafkan kesalahan, rendah hati, dan
tidak menyombongkan diri serta bertutur kata yang lembut. Ibnul
Mubarak t mengatakan, “(Salah satu) bentuk akhlak mulia adalah wajah
yang selalu berseri, memberikan kebaikan, dan mencegah diri dari
menyakiti orang.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/457) Telah terbukti
bahwa apa yang disebutkan oleh Ibnul Mubarak t adalah akhlak mulia yang
cepat mendatangkan kecintaan dari manusia. Cerahnya wajah saat
berjumpa dengan saudaranya, diiringi senyuman dan ucapan salam, akan
memunculkan suasana keakraban tersendiri. Akan tersebar diantara mereka
ruh kasih sayang. Memberi kebaikan kepada orang lain, artinya
seseorang mencurahkan sebagian yang dimilikinya untuk kebaikan orang
lain. Pemberian itu bisa berupa harta, tenaga, saran, dan bahkan
dukungan dalam kebaikan. Sebab, biasanya orang akan mencintai orang yang
berbuat baik kepadanya.
Menahan diri dari menyakiti orang, adalah
karena setiap individu masyarakat menginginkan berlangsungnya kehidupan
mereka dengan nyaman dan damai. Sehingga bila ada yang menimpakan
gangguan kepada mereka dalam bentuk apa pun, ketenangan menjadi terusik
dan keretakan di tengah masyarakat tak bisa dihindarkan.
Untuk bisa berhias diri dengan akhlak mulia tentu ada beberapa cara, diantaranya:
1. Menelaah sejarah kehidupan Nabi Muhammad n berikut apa yang
terkandung di dalamnya berupa perangai-perangai beliau yang terpuji. 2. Memilih lingkungan dan teman yang baik. 3. Duduk di majelis ulama untuk menimba ilmu mereka serta bersuri tauladan dengan mereka.
Demikianlah sekelumit penjelasan seputar tiga pesan Rasulullah n yang
mulia, semoga Allah l memberikan karunia-Nya kepada kita untuk
menjalankannya. Wallahu a’lam bish-shawab.
No comments:
Post a Comment