Dengan
menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Panggilan adzan mengusik kesadaran, jauh menyelusup, terasa bisikan yang begitu dalam dan tajam mengusik jiwa
Ayo bersegera meraih kemenangan, ajakan yang menyusup di saat menjelang malam, adzab magrib, sayup-sayup menggema
tidak seperti biasanya, yaitu bulan-bulan yang lalu
panggilan adzan kali ini memiliki energy yang luar biasa, memiliki magnet yang kuat, daya pikat yang hebat
karena panggilan adzan kali ini adalah pemberitahuan kalau puasa hari ini selesai
suatu kelegaan yang begitu dalam, menyeruak di dalam dada dan melambungkan tinggi
suatu keriangan yang sangat pekat dan kegembiraan yang penuh serta kebahagiaan yang aneh dan sult dimengerti
keteduhan, kedamaian, kelegaan, kelembutan, kenyamanan dan entah rasa apa lagi yang meliputi jiwa
Panggilan adzan ini seperti memiliki kekuatan "gaib" yang begitu mempesona
seolah jiwa terpasung dan terpesona oleh kekuatan gaibnya untuk semakin masuk ke kedalaman maknanya
sebuah panggilan yang bertepatan dengan akhir puasa hari ini, sebagaimana awal puasa yang dimulai dengan panggilan adzab shubuh
maka akhir puasa juga ditandai dengan adzan yaitu adzan magrib.
Untuk apa?.
Mengapa?.
Apa gunanya?..
Apa untungnya?...
Apa faedahnya?...
Mengapa harus begini?
...mengapa harus begitu?.
Siapa yang diharuskan puasa?
Apanya yg puasa?...
Bagaimana kalau tidak puasa?...
Sejuta pertanyaan di kepala.
Bagaimana kualitas puasa saya.
Bagaimana saya tahu.
Bagaimana bisa baik.
Bagaimana bisa fitrah.
Bagaimana mendapat lailatul qadar.
Sejuta harap di dada!.
Puasa menjadi impian.
Harapan.
Keinginan. Pengejaran!.
Apakah begitu?.
Sejuta kerancuan memasuki pemikiran.
Luruhkan. Duduk. Diam. Sholat. Sujud. Rasakan.
Dengan lembut berkata dan bermohon kepada Rab manusia. Raja manusia . Sesembahan manusia.
"Aku tidak tahu".
Aku tidak bisa membaca.
Apa yg harus ku "iqro".
Ya Tuhanku: Aku tidak tahu.
Aku memulai puasa bulan ini dengan rasa "ketidaktahuanku akan puasa".
Biarkan rasa tidak tahu. Berdiam sekian lama. Terus.
Biarkan Allah yangg mengajari. Lupakan semua hakekat dan makna.
Penuhi saja syariat. Tekuni hukum-hukum dan aturan Puasa.
Saksikan dan amati saja pengajaran Allah.
Kita hanya perlu berkata. Aku siap membaca dengan nama Tuhan (Rabb).
Ya hanya dengan Rabb manusia yg menciptakan manusia dari segumpal darah.
Amati pelajaran Allah di dada kita. Dengarkan detak jantung kita.
Rasakan jeritan hati. Dengar bisikannya. Teguhkan rasa "aku tidak tahu".
Aku memohon pengajaran dari Rabb manusia.
Mudah sederhana. Efforless. Tidak ada daya dalam mencari makna dan hakekat.
Teguh. Kuat. Tekun. Sungguh-sungguh melakukan syariat/ketentuan/aturan puasa.
Kombinasi usaha penuh atas raga. Tanpa usaha untuk yang di jiwa.
Tujukan untuk mengenal "alaq". Si segumpal darah. Yaitu diri kita. Siapa diri kita.
Mengapa kita ada. Untuk apa keberadaan kita. Harusnya bagaimana. Gali pertanyaan dalam kesadaran.
Lalu rasakan pengajaran Tuhan melalui "kalam"Nya. Kita hanya diam mengamati saat kalamNya diturunkan lagi ke dada kita.
Sebagai referensi saja. Tujuan puasa agar kita mengenal diri. Mengenal aku. Mengenal aku sejati.
Mengenal sesuatu yg "dasar/asal/fitrah" dalam diri kita.
Proses mengenal ruh (bashiroh/aku atau apapun sebutannya) diharapkan mampu tercapai di sepuluh hari pertama.
Ini hanya referensi saja. Karena pengajaran Allah hanya Dia yg tahu.
Walaupun "seolah" kita merasa sudah tahu atau sudah mengenal "ruh" ini coba saja tetap lakukan.
Selalu ada rahasia yang akan Allah singkap.
Ruh inilah yg mampu mengenal kalam dalam bentuk "lailatul qadar" nanti.
Semakin kita mengenal ruh maka semakin banyak "kalam" yangg kita tahu.
Kalam dalam hal ini adalah bahasa Allah kepada ruh yg bukan berupa huruf atau kata atau kalimat.
Tapi kita tahu. Kita rasakan. Dan sadari.
Itulah yg akan terjadi selama bulan ramadhan ini.
Kita akan melakukan "journey" membuka misteri cahaya ramadhan.
Dalam warna-warni. Tidak ada suara. Tidak ada kata.
Namun kita rasakan keindahan. Ketenangan. Kedamaian. Kebahagian.
Dan satu lagi yg penting. Pengetahuan. Ilmu. Kalam.
Karena Rabb manusia yg akan mengajari langsung manusia "membaca kalamNya".
Memasuki baynak pertanyaan, dan pertanyaan dan pertanyaan.
dan selanjutnya begitu banyaknya jawaban, yang justru semakin menimbulkan ketidaktahuan.
Tidak tahu dan tidak tahu. Tidak tahu dalam rasa tahu. Tahu dalam ketidaktahuan
Ku mulai catatan di bawah naungan kemilau cahaya Ramadhan ini, untuk mencatat apa saja yang terjadi di bulan Ramadhan ini.
Semoga ada peningkatan ibadah bagiku. Semoga Allah mengabulkan. Amin.
Sungguh, terasa semakin berat dalam menulis, bukan berat akan proses menulis dan kegiatan menulisnya.
Tetapi berat dalam :konsekwensi "sebuah pembelajaran".
Bagaimana seandainya apa yang didapatkan olehku yang baru segelas kecil ini salah?. Bagaimana kalau ada yang mengikutinya?.
Bagaimana apabila kesadaran ini akan berlanjut dan turun temurun dari generasi ke generasi?.
Sebaliknya!.
Bagaimana seandainya ini benar dan aku tak mau memberi kabar dan memberitakannya? aku menjadi seorang egois.
Atau!
Bagaimana seandainya ini juga bukan apa-apa dan tiada apa-apa yang berarti?.
Bagaimana dan bagaimana...?
Bagaimana?
Sejuta andai!.
aaah... aku hanyalah manusia biasa. Teramat sangat biasa.
Begitu seterusnya dengan sangat banyak tanya. Bagaima prosesnya dan masih banyak lagi. Tentu saja ada kekhawatiran akan
menjelaskan sebuah "kebenaran semu". Bagaimana kalau menjadi pemahaman, bagaimana kalau jadi bias di tempatnya.
Menjadi kabur dan tiada makna atau bahkan menjadi sebuah tonggak awal kesalahan.
Sungguh sangat banyak yang tidak kuketahui. Semoga Allah selalu membimbingku.
Maka aku hanya berserah diri sepenuhnya kepada Allah.
Aku hanya mampu berniat: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.
Inilah kemampuan terbaikku mencoba "membaca kalam Allah"
Aku ridho dengan yang ada dan semoga Allah ridho dan mengampuni kesalahanku.
Semoga pembaca, mampu dewasa dalam memilih dan memilah untuk mengambil hikmah kebaikan saja.
Semua kesalahan adalah berasal dari kebodohanku.
Sedangkan apabila ada kebenaran maka itulah hidayah. Semoga kebenaran itulah kebenaran Allah, Tuhanku
karena kuniatkan kutulis ini Dengan namaNya. Namanya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Di bawah kemilau cahaya Ramadhan
No comments:
Post a Comment